Kepala SMPN 4 Ngrayun Gunandi menuturkan, longsor terjadi Minggu malam, sekitar pukul 22.00. Kala itu, hujan lebat sedang mengguyur desa setempat. Kebetulan, letak sekolah berada di lereng bukit. Tiba-tiba, suara gemuruh terdengar dari tebing setinggi 8,5 meter yang ada di sekolah. Sang penjaga sekolah pun kaget. Begitu dicek, rupanya tebing longsor. ‘’Material longsoran mengenai dua ruang kelas yang ada di bawah tebing,’’ ujarnya.
Diketahui, dinding dua ruang kelas untuk kelas VII tersebut jebol. Timbunan material longsor juga berdampak pada retakan memanjang di dinding kedua ruangan tersebut. Tidak hanya dua ruang kelas itu, satu ruang keterampilan siswa yang terletak di atas bukit juga terdampak. Dua tiang yang ada di ruangan dalam kondisi tergantung. Teras dan dinding juga retak-retak. Gunandi mengaku hingga kemarin pihaknya belum membersihkan material longsor karena khawatir jika dibersihkan, tiang di ruang keterampilan patah dan menyebabkan ruangan ambruk. Begitupula dua ruang kelas di bawah tebing. ‘’Ditakutkan jika dibersihkan ketiga ruangan itu bisa rusak lebih parah. Maka kami biarkan,’’ terangnya.
Untuk sementara ini, Gunandi menyebut KBM tetap berlangsung. Namun pihak sekolah memberi pembatas di seputaran tiga ruangan yang terdampak longsor tersebut. Siswa dilarang mendekat. Sebanyaj 58 siswa di dua kelas tersebut untuk sementara menempati ruang perpustakaan dan laboratorium. Menurut Gunandi, potensi longsor di sekolahnya tidak tergolong memprihatinkan. Namun longsor sudah terjadi empat kali sejak 10 tahun terakhir. ‘’Dan longsor kali ini yang paling parah dari sebelumnya,’’ ujarnya.
Kasi Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Ponorogo Heri Sulistyono mengaku pihaknya sudah meluncur ke sekolah untuk melakukan identifikasi. Pihaknya berencana membantu membersihkan material longsoran. Menurut Heri, di Ngrayun ada 11 titik potensi rawan longsor. Lima titik rawan longsor berada di pemukiman warga, sementara enam titik lainnya mengancam jalan. ‘’Namun longsor yang terjadi di sekolah itu juga termasuk yang rawan. Bantuan perbaikan mungkin bisa diberikan tapi relatif karena menunggu hasil identifikasi terkait kerusakan sekolah,’’ sebutnya.
Sementara, Kepala Dinas Pendidikan (Diknas) Ponorogo Tutut Erliena menuturkan pihaknya sudah mengetahui kabar longsor di SMPN 4 Ngrayun. Untuk sementara, dia telah meminta kepala sekolah mendata dan melaporkan kerusakan akibat longsor. Laporan tersebut akan digunakan untuk mengajukan bantuan bencana alam kepada pemkab maupun pusat. Sebab jika harus menunggu Dana Alokasi Khusus (DAK) atau sumber pendanaan lainnya, paling cepat baru bisa terealisasi tahun depan. ‘’Supaya bisa lebih cepat tertangani, bantuan perbaikan tersebut akan dicoba melalui dana bencana alam. Jadi diprioritaskan ke sana,’’ ujarnya.