Informasi
yang dihimpun penumpang langsung tumpang tindih lantaran posisi bus
miiri 45 derajat. Sembari menahan sakit akibat himpitan, para penumpang
keluar satu persatu dari kaca depan bus yang pecah. ‘’Semua penumpang di
dalam bus menjerit-jerit. Ya Allah, ya Allah. Ada jugayang berteriak awas pak awas,’’ ungkap Megawati, salah seorang penumpang.
Megawati,
menjelaskan, saat itu dirinya duduk di kursi baris kedua dari depan.
Tepat di belakang kernet bus. Bus yang ditumpanginya melaju dari timur
ke barat. Saat itu kondisi hujan deras. Setelah melintasi tikungan yang
berjarak hanya sekitar 50 meter dari TKP, ada truk fuso yang dikemudikan
Subianto, 50, warga jalan Sriti, Nambangan Lor, Manguharjo, Kota Madiun
melintang di tengah jalan. Posisinya menghadap ke selatan. Namun
dirinya tidak tahu truk tersebut dalam posisi mau mundur ke belakang
atau putar balik. ‘’Kami langsung menjerit nggak tahu sopirnya tadi sempat membunyikan klakson atau mengerem nggak,’’ terang penumpang asal Kwadungan, Ngawi tersebut.
Karena
jaraknya dengan truk sudah dekat, sopir bus langsung membanting setir
ke kanan. Hingga akhirnya terjun ke lahan tebu sedalam dua meter.
Akibatnya, kondisi bus miring ke kiri, diikuti ambruknya para penumpang
yang berada di barisan kursi kanan. Sebelum akhirnya satu persatu
penumpang keluar lewat kaca depan yang pecah. ‘’Saya terjepit kaca
karena ditindih ibu-ibu yang duduk di kanan saya,’’ jelas penumpang
tujuan Sukoharjo, Jawa Tengah ini.
Sementara,
Slamet, sopir bus menjelaskan saat itu dirinya mengemudikan bus masuk
persneling lima. Kecepatannya sekitar 70 kilometer per jam. Saat melihat
truk posisi melintang, dia langsung melakukan pengereman, bahkan hingga
bus bergoyang-goyang karena jalan yang licin kena hujan. Namun karena
jarak yang sudah terlalu dekat, dirinya memilih untuk banting setir ke
kanan. Hingga akhirnya masuk ke areal persawahan warga. ‘’Saya pilih
banting setir ke kanan yang ada di sawah. Ketimbang banting kiri karena
ada bangunan. Kalau nggak gitu pasti ada banyak jatuh korban,’’ bebernya.
Subianto,
sopir truk yang mengangkut 10 ton galon air mineral itu mengaku sedang
dalam posisi putar balik. Saat itu dirinya fokus mengemudikan laju truk,
sementara kondisi jalan diatur oleh kernetnya. Nahas, ketika sedang
dalam posisi melintang, muncul bus Sumber Selamat jurusan
Surabaya-Jogjakarta dari arah selatan. Bus melaju dengan kencang. Karena
mengangkut muatan berat dan jarak yang sudah dekat, dirinya tidak bisa
berbuat banyak. ‘’Bus langsung banting setir ke kanan, tapi bagian depan
kanannya sempat mengenai bak belakang kiri truk,’’ terangnya.
Dia
menambahkan, 10 ton galon air mineral itu diangkut dari Klaten, Jawa
Tengah ke salah satu agen toko di Mantingan. Toko yang hendak dituju
berada di selatan jalan dan sudah dilewati. Namun karena lebar jalan
terlalu sempit, dia tidak bisa berbelok arah. Sehingga mencari jalan
yang lebih luas meski harus menempuh sekitar 200 meter dari lokasi toko
yang dituju. ‘’Truk saya bisanya di jalan itu (lokasi kecelakaan, Red)
untuk bisa belok arah,’’ ujarnya.
Sementara,
Kanit Laka Satlantas Polres Ngawi Ipda Miftachul Hudda belum bisa
menyimpulkan apakah bus atau truk yang posisinya tidak menguntungkan
dalam laka lantas itu. Dia mengaku masih mendalami keterangan para
saksi, dan memeriksa kecepatan dari bus. ‘’Untuk penumpang bus lima yang
terluka dan dirawat di Puskesmas Sambirejo,’’ jelasnya.