Bus Sumber Selamat Nyemplung Lahan Tebu

img NGAWI – Teriak dan jerit 22 penumpang bus Sumber Selamat nopol W 7022 UZ langsung pecah. Ini setelah bus yang ditumpangi kemarin (16/11) sekitar pukul 14.00 WIB nyemplung lahan tebu di kawasan Jalan Raya Mantingan, Ngawi KM 34-35. Sebelumnya, bus AKAP yang disopiri Slamet,45, warga Krian, Sidoarjo itu menabrak bak belakang kiri fuso nopol E 9489 HA.
Informasi yang dihimpun penumpang langsung tumpang tindih lantaran posisi bus miiri 45 derajat. Sembari menahan sakit akibat himpitan, para penumpang keluar satu persatu dari kaca depan bus yang pecah. ‘’Semua penumpang di dalam bus menjerit-jerit. Ya Allah, ya Allah. Ada jugayang berteriak awas pak awas,’’ ungkap Megawati, salah seorang penumpang.
Megawati, menjelaskan, saat itu dirinya duduk di kursi baris kedua dari depan. Tepat di belakang kernet bus. Bus yang ditumpanginya melaju dari timur ke barat. Saat itu kondisi hujan deras. Setelah melintasi tikungan yang berjarak hanya sekitar 50 meter dari TKP, ada truk fuso yang dikemudikan Subianto, 50, warga jalan Sriti, Nambangan Lor, Manguharjo, Kota Madiun melintang di tengah jalan. Posisinya menghadap ke selatan. Namun dirinya tidak tahu truk tersebut dalam posisi mau mundur ke belakang atau putar balik. ‘’Kami langsung menjerit nggak tahu sopirnya tadi sempat membunyikan klakson atau mengerem nggak,’’ terang penumpang asal Kwadungan, Ngawi tersebut.
Karena jaraknya dengan truk sudah dekat, sopir bus langsung membanting setir ke kanan. Hingga akhirnya terjun ke lahan tebu sedalam dua meter. Akibatnya, kondisi bus miring ke kiri, diikuti ambruknya para penumpang yang berada di barisan kursi kanan. Sebelum akhirnya satu persatu penumpang keluar lewat kaca depan yang pecah. ‘’Saya terjepit kaca karena ditindih ibu-ibu yang duduk di kanan saya,’’ jelas penumpang tujuan Sukoharjo, Jawa Tengah ini.
Sementara, Slamet, sopir bus menjelaskan saat itu dirinya mengemudikan bus masuk persneling lima. Kecepatannya sekitar 70 kilometer per jam. Saat melihat truk posisi melintang, dia langsung melakukan pengereman, bahkan hingga bus bergoyang-goyang karena jalan yang licin kena hujan. Namun karena jarak yang sudah terlalu dekat, dirinya memilih untuk banting setir ke kanan. Hingga akhirnya masuk ke areal persawahan warga. ‘’Saya pilih banting setir ke kanan yang ada di sawah. Ketimbang banting kiri karena ada bangunan. Kalau nggak gitu pasti ada banyak jatuh korban,’’ bebernya.
Subianto, sopir truk yang mengangkut 10 ton galon air mineral itu mengaku sedang dalam posisi putar balik. Saat itu dirinya fokus mengemudikan laju truk, sementara kondisi jalan diatur oleh kernetnya. Nahas, ketika sedang dalam posisi melintang, muncul bus Sumber Selamat jurusan Surabaya-Jogjakarta dari arah selatan. Bus melaju dengan kencang. Karena mengangkut muatan berat dan jarak yang sudah dekat, dirinya tidak bisa berbuat banyak. ‘’Bus langsung banting setir ke kanan, tapi bagian depan kanannya sempat mengenai bak belakang kiri truk,’’ terangnya.
Dia menambahkan, 10 ton galon air mineral itu diangkut dari Klaten, Jawa Tengah ke salah satu agen toko di Mantingan. Toko yang hendak dituju berada di selatan jalan dan sudah dilewati. Namun karena lebar jalan terlalu sempit, dia tidak bisa berbelok arah. Sehingga mencari jalan yang lebih luas meski harus menempuh sekitar 200 meter dari lokasi toko yang dituju. ‘’Truk saya bisanya di jalan itu (lokasi kecelakaan, Red) untuk bisa belok arah,’’ ujarnya.
Sementara, Kanit Laka Satlantas Polres Ngawi Ipda Miftachul Hudda belum bisa menyimpulkan apakah bus atau truk yang posisinya tidak menguntungkan dalam laka lantas itu. Dia mengaku masih mendalami keterangan para saksi, dan memeriksa kecepatan dari bus. ‘’Untuk penumpang bus lima yang terluka dan dirawat di Puskesmas Sambirejo,’’ jelasnya.